Prioritas Pengembangan Bisnis Agro dengan Tekhnologi

0
103
agro bisnis

Indonesia negara agraris sejak dari abad pertengahan, banyak kondisi alam yang memebntuknya menjadi demikian dari letak garis lintang dan bujur, banyaknya gunung berapi, iklim dan amsih banyak yang lain. Pertanian selalu menjadi bisnis yang menjanjikan dengan begitu banyaknya sumberdaya tersedia. Pemerintah pun tidak pernah lepas perhatian pada perkembangan bisnis di bidang ini.

Seperti dilansir oleh sebuah situs berita, akhir bulan Januari kemarin, Menko Bidang Perekonomian meminta Kementrian Perindustrian mulai mengerucutkan priorotas pengembangan bisnis agro setidaknya pada 4 bidang yaitu sawit, kakao, kopi dan karet.

Potensi pasar, ekspor yang tinggi, daya saing di apsar internasional, penyerapan tenaga kerja menjadi beberapa alasan utama pemilihan keempat bidang tersebut. Rapat koordinasi yang dilakukan pada tanggal 11 Januari silam pun membahas tentang upaya-upaya yang akan dilaukan dalam pengembangan industri pengolahan komoditas prioritas agro bisnis tersebut, tidak lepas tentang penyempurnaan program-program yang telah berjalan.

Hingga kuartal III tahun lalu, industri agro mencatatkan pertumbuhan kumulatif sebesar 6,07% atau tertinggi di antara sektor-sektor industri pengolahan lainnya. Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan kumulatif industri agro sepanjang 2017 sebesar 6,89% dan pada tahun ini sebesar 6,93%. Industri makanan menjadi subsektor industri agro yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan paling tinggi pada tahun ini, yaitu sebesar 8,96%, disusul oleh industri furnitur sebesar 3,03%, dan industri kayu, barang dari kayu dan gabus, dan batang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya sebesar 2,60%.

Kemudian berkaitan dengan tekhnologi, seorang pakar tekhnologi industri pertanian berpendapat bahwa sudah saat nya dilakukan penerapan tekhnologi digital dalam agro bisnis. Penerapan teknologi digital di desa akan meningkatkan efisiensi maupun efektivitas pembangunan pertanian dan agroindustri secara nyata. Teknologi digital apa yang harus diterapkan di desa dan bagaimana caranya?

Ada dua yang perlu dikembangkan, yaitu drone dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Keduanya telah banyak dikembangkan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis , Jepang, dan Cina. Contohnya, NASA mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (termasuk drone) sejak beberapa tahun lalu dan Google meluncurkan Google.AI untuk menciptakan teknologi disruptif dengan menggunakan kecerdasan buatan.

Pada sektor agroindustri, kegiatan operasionalnya perlu ditunjang dengan sistem produksi, pemasaran, dan agrologistik yang cerdas. Dalam kegiatan produksi modern, alur komoditas menjadi produk haruslah dapat ditelusuri. Perencanaan agroindustri pedesaan yang selama ini hanya menggunakan teknologi komputer sederhana (atau bahkan masih manual) dapat diganti dengan Intelligent Agroindustrial Resource Planning (IARP), yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan seperti cellular automata dan algoritma genetika. Sistem IARP yang inovatif ini akan sangat membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional agroindustri serta memudahkan proses penelusuran produk.

Kuncinya adalah teknologi digital sangat diperlukan untuk pembangunan agroindustri di pedesaan. Tanpa teknologi digital, desa akan menjadi semakin primitif dan tidak berdaya saing. Namun teknologi ini harus diterapkan secara selektif dan bertahap. Kesiapan mental dan kemampuan masyarakat desa untuk menerima dan menggunakannya harus terus ditingkatkan. Program pendidikan, penyuluhan, dan pendampingan untuk menerapkan teknologi tersebut juga harus terus dilakukan agar cita-cita untuk mewujudkan desa digital atau desa cerdas dapat tercapai.

 

Comments

comments